Pentingnya Tes Kognitif Untuk Mengetahui Kebutuhan Belajar dan Kecerdasan Ananda


Hola Moms, 
Pernahkah Moms galau akan sesuatu dalam diri ananda kita? 
Mungkin kegalauan akan tempatnya menuntut ilmu ataupun galau karena proses belajar ananda yang tak seperti biasanya. 

Saya bertanya karena sedang mengalaminya. Anak sulung saya belum sekolah, nih. Masih galau mau sekolah dimana. 
Pun begitu, dianya juga masih ragu antara belajar di sekolah atau di rumah aja? 
Sebab, awalnya kami berencana untuk homeschooling. Tapi, beberapa waktu lalu si sulung sempat minta sekolah. Sekarang giliran emaknya puyeng nyariin sekolah yang bagus dan tepat buat dia. 


Belajar Dengan Mengeksplor Sekitar


Tapi nih, ya Moms. Sebenarnya meskipun dua anak saya belum belajar secara formal di sekolah, namun hampir setiap hari dia sudah belajar di rumah, loh. Mereka banyak belajar dari buku-buku yang saya dan suami bacakan setiap harinya. Selain itu, kami juga sering keluar rumah sekedar jalan-jalan mengamati pohon, tumbuhan, maupun burung yang terbang. 


Eksplor sekitar dengan berjalan kaki

Adakalanya juga beberapa kali dalam kurun waktu tertentu, kami bepergian ke fasilitas publik. Seperti perpustakaan, kentor pos sekalian mengirim barang, bandara, pengajian umum, dan lain sebagainya. Sengaja saya mengajak mereka ke tempat-tempat itu agar bisa belajar dan mengamati secara langsung. 

Apa enggak repot mengajak dua anak ke area fasilitas publik itu? Enggak, kok. Justru mereka enjoy dan happy loh. Ya, saya merasa ini karena kebiasaan saya memberikan sugesti positif setiap akan bepergian ataupun melakukan suatu hal yang baru. Mengenai sugesti ini nanti kita bahas di lain kesempatan, ya. 


Di ruang tunggu bandara, tetap sambil berkegiatan: mewarnai

Anakku Kenapa Ya?


Sebetulnya saya galau abis, nih, Moms. Pasalnya, meski kedua anak saya dapat selalu belajar setiap harinya tapi mereka tidak pernah 'benar-benar' belajar. Yang saya maksud disini, mereka belum pernah duduk diam dalam jangka waktu yang lama hanya untuk belajar. Belajar yang saya maksud disini mereka belajar membaca, menulis, berhitung atau apapun. 


Si Sulung belajar pra menulis

Contohnya anak saya yang sulung. Usianya genap 6 tahun bulan Juni yang akan datang. Ia sangat aktif bergerak, suka sekali melompat dan memanjat. Apalagi semenjak melihat pertandingan panjat tebing saat Asian Games lalu, ia jadi sangat suka memanjat tembok dan pagar. Nah, kebalikan saat ia tengah belajar. Ketika belajar mewarnai, amat jarang ia mampu menyelesaikan mewarnai satu halaman gambar. Seringkali baru setengah gambar ia sudah bosan dan meninggalkan pekerjaannya. Ketika belajar menulis pun demikian, jarang sekali ia bisa menyelesaikan menulis satu halaman sesuai yang diinstruksikan. 

Saya jadi berpikir, apa yang terjadi pada si sulung? Apakah ini normal untuk anak seusianya? Ohya, sedikit berbeda ketika ia belajar berhitung dan dibacakan buku. Ia akan betah berlama-lama setiap dibacakan buku cerita dan belajar berhitung. Seringkali ia meminta saya membuat banyak soal penjumlahan dan pengurangan untuk dikerjakan olehnya. 

Jadi, bagaimana seharusnya metode yang saya terapkan untuk si sulung ini? Saya masih meraba-raba banget, ini. Untuk memasukkannya ke sekolah pun sebenarnya saya masih ragu. Mengingat dirinya yang tak selalu betah duduk berlama-lama untuk belajar. Khawatir nantinya ia akan dicap buruk karena tak bisa diam. Hufth, dilema deh. 


Setiap Anak Itu Unik Dengan Kecerdasan yang Dimilikinya


Saya meyakini bahwa setiap anak itu unik dan memiliki kecerdasannya masing-masing. Namun dengan kondisi anak saya yang seperti itu, saya masih meraba nih, sebenarnya kecerdasan apa yang anak saya miliki? Apakah ia memiliki kecerdasan fisik karena sangat aktif bergerak ataukah kecerdasan logis karena suka berhitung? Atau keduanya? 

Karena kegalauan saya tak kunjung berakhir maka saya mencoba mencari solusi dengan berselancar di dunia maya. Siapa tahu ada yang bisa membantu saya untuk mengenali potensi apa yang dimiliki oleh anak saya. Eh, ketemulah dengan cuitan di twitter mengenai #TesKognitifAJT. Nah, apaan nih? Tes Kognitif, samakah dengan tes IQ pada umumnya? 

Setelah saya telusuri di www.melintascakrawala.id ternyata tes kognitif ini berbeda dengan tes IQ pada umumnya. Jika tes IQ hanya mengacu pada hasil berupa angka atau rating saja, maka tes kognitif atau yang biasa disebut AJT CogTest ini memberikan hasil yang komprehensif dari 8 bidang kecerdasan anak. Tes ini mengukur kekuatan dan kelemahan kognitif anak dengan akurat, andal, tervalidasi dan lengkap. Maka wawasan ini memungkinkan orangtua maupun pendidik menggunakan strategi yang paling efektif untuk anak, sehingga dapat meningkatkan kemampuan belajar anak. 

Saya jadi semakin yakin untuk mencoba tes kognitif ini untuk mengetahui sisi unik dalam metode pembelajaran yang tepat dan efektif diterapkan pada anak saya. Karena AJT CogTest ini memberikan informasi yang jelas bagaimana anak memperoleh pengetahuan lalu memproses pengetahuan yang dimiliki. Ketika saya sebagai orangtua sekaligus pendidik telah mampu mengenali kelebihan dan kekurangan anak dalam hal proses belajar, tentu kita akan lebih mudah menentukan metode yang tepat dan cocok untuk anak kita. Betul?

Karena itulah, AJT CogTest yang diselenggarakan oleh PT MCI (Melintas Cakrawala Indonesia) ini cocok juga digunakan oleh seorang guru untuk mengetahui sisi unik dari masing-masing siswanya di sekolah. Sebab pada dasarnya guru tidak dapat menyamaratakan perlakuan pada semua siswa. Seyogyanya guru maupun orangtua memberikan perhatian yang sama dengan pendekatan yang berbeda pada tiap anak didiknya. Setuju? 


Mengapa Harus Tes Kognitif  

Kenapa aspek kognitifnya yang harus dites? 
Karena segala upaya yang menyangkut aktivitas otak termasuk dalam ranah kognitif. Termasuk diantaranya pengetahuan atau ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan penilaian atau evaluasi. Hasil pemeriksaan dalam keenam aspek ini dapat membantu orangtua maupun guru dalam mengenali anak sehingga dapat menyesuaikan segala sesuatu berdasarkan kebutuhan anak. 


Mengenai AJT CogTest


#AJTCogTest ini dirancang khusus untuk anak usia 5-18 tahun dan sudah terstandarisasi sesuai dengan karakteristik bahasa dan budaya Indonesia. Tes ini dikembangkan berdasarkan teori kecerdasan termutakhir, yaitu teori Cattel-Horn-Carrol (CHC Theory). 

AJT CogTest ini merupakan hasil dari penelitian yang telah dilakukan selama lebih dari empat tahun terhadap hampir 5000 siswa dari 6 provinsi di Pulau Jawa. Bekerjasama dengan Fakultas Psikologi UGM, dan Kevin McGrow sebagai konsultan proyek, ahli dari Teori CHC, dan Co-Author dari Woodcock-Johnson III & IV. Plus, AJT CogTest telah diuji coba di 10 sekolah terkemuka di jabodetabek. 

AJT CogTest dilakukan oleh psikolog yang sudah mengikuti pelatihan dan disertifikasi oleh PT MCI. Hasil dari AJT CogTest dikirimkan berupa softcopy melalui surat elektronik (email) dalam waktu tujuh sampai empat belas hari setelah tes dilakukan. 

Nah, Moms sudah tahu kan kenapa kita sebagai orangtua sebaiknya perlu memahami potensi kelebihan maupun kekurangan anak kita? Tak lain dan tak bukan adalah untuk memberikan proses belajar yang baik untuk mereka sehingga hasil yang diperoleh pun dapat lebih optimal. Maka dari itu, #YukKenaliAnakKita

Ketika suatu hari saya jalan-jalan di instagram, saya melihat postingan akun @melintascakrawalaid. Banyak banget quotes maupun ilmu baru yang saya dapat dari feed instagramnya. Kalau Moms ingin melakukan AJT CogTest untuk anak Moms juga bisa mendaftar melalui DM IG-nya atau langsung chat ke whatsapp 087883258354, ya. Jangan khawatir dengan biayanya, Moms karena cukup terjangkau, kok. 

Semoga setelah melakukan tes kognitif ini kita, khususnya saya dapat lebih bijak dalam mendampingi proses belajar ananda di rumah. Perlu banget nih untuk si Sulung. Kalau adik mah belum perlu karena masih balita, belum genap 4 tahun pula. Masih suka eksplor sana-sini. hihihi 

Sekian dulu ya, Moms coretan saya mengenai kegalauan saya yang akhirnya sudah mendapatkan jawaban. Uhuy. Semoga cerita saya ini bisa bermanfaat juga buat Moms semua. 

















25 komentar:

  1. Wah rekomendasi banget ini mbak coba nanti kusampaikan ke ortu saya yang butuh ini ya mbak terimakasih

    BalasHapus
  2. Wuiish, kereen.
    Bisa untuk membantu cara belajar anak agar lebih lebih efektif.

    BalasHapus
  3. Whaaa ada ya, nanti cek ah ignya. Btw, usia 5 tahun sudah bisakam

    BalasHapus
  4. Tesnya rekomended banget yah bun. Jadi bisa tau yah kemampuan si anak plus sikap kita untuk mendampinginya juga. Makasi bun buat sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Kita jadi tahu apa yang harus dilakukan sesuai hasil tes nya

      Hapus
  5. Memang seharusnya proses belajar disesuaikan dengan kecerdasan anak, apakah bahasa, musik, dll. Tetapi hanya sedikit sekolah yang mendukung proses belajar seperti itu, mom

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah,betul itu mbak. Makanya masih bingung nih anak saya mau sekolah dimana atau mau HS aja

      Hapus
  6. Setuju mba, pola didik pada masing-masing anak gak bisa disamaratakan. Karena setiap anak unik dan spesial. Hm, jadi kepo sama testnya nih.

    BalasHapus
  7. Mbak,maaf ya, aku koreksi dulu. Yang benar Asian Games, karena Asean Games nggak ada. Kalau Sea Games baru ada, hihihi. ALumni Asian Games 2018 protes, wkwkwk.

    Btw soal tes kognitif aku malah gak kepikiran je. Selama ini ya tak amati sendiri aja. Kalau sesuai tahapan tumbuh kembangnya ya aman. Meskipun nggak sama persis, minimal nggak ketinggalan. Ternyata ada tes-nya juga ya. Perlu nih cari info lengkapnya. Siapa tahu nanti bisa buat adik yang hampir lulus balita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buat kakak yang udah SD juga bisa mbak. BTW, Makasih yaa koreksinya

      Hapus
  8. Wah kita sama galaunya mba. Makasi ya infonya, kayaknya saya butuh nih. Tapi Aqeela masih 5 th, apakah sudah bisa?

    BalasHapus
  9. Wah menarik ya mb tentang tes kognitif untuk anak kita. Biar kita jadi tahu minat anak kita di bidang apa dan bagaimana yang srharusnya kita sebagai ortu menyiapkan segalanya. Di Malang ada ga ya tempat buat tes kognitif?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba cek di IG nya aja mbak. Insya Allah infonya lengkap

      Hapus
  10. Yaa memang kita sebagai orang tua bukan hanya memberi materi serta pendidikan terhadap anak.

    Akan tetapi juga harus memperhatikan tumbuh kembang serta kesehatan fisik anak. Seperti yang telah dijelaskan dengan gamblang diatas..😄😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul.makasih banyak yaa udah mampir

      Hapus
  11. Yaa memang kita sebagai orang tua bukan hanya memberi materi serta pendidikan terhadap anak.

    Akan tetapi juga harus memperhatikan tumbuh kembang serta kesehatan fisik anak. Seperti yang telah dijelaskan dengan gamblang diatas..😄😄

    BalasHapus
  12. Membersamai perkembangan anak emang sangat menyenangkan ya mbak. Makasih infonya ya

    BalasHapus
  13. Sepengetahuan saya anak usia 6 tahun belum boleh di tes selain tes tumbang mbak atau tes Denver namanya. Hehehe... Tapi setiap sumber berbeda² sih yak

    BalasHapus
  14. Alhamdulillah, ini informasiya sangat membantu.
    Anak saya Juni mendatang usia 5.5tahun dan juga belum sekolah.
    Mikirnya Home schooling saja, jadi sampai sekarang belajar kami ya bermain, bernyanyi.
    Lebih ke kemandirian dan karakter saja.

    BalasHapus