Ayahku (Bukan) Cinta Pertamaku


‘Ketika sosok seorang ayah tak mampu menjadi cinta pertama bagi putrinya, maka sang putri akan mencari cintanya pada sosok laki-laki lain.’ -Qoty Intan Zulnida

Ku pandangi lekat-lekat muka polos bocah perempuan berusia lima tahun ini. Ia tumbuh semakin mandiri, pintar dan mengayomi adik lelakinya yang baru berusia tiga tahun.

Ku sadari akhir-akhir ini ayah mereka sering bepergian ke luar kota karena urusan pekerjaan.

Dan saat itu, aku merasa, putri sulungkulah yang paling mencari keberadaan ayahnya.

Terlihat dari teriakan hebohnya yang gembira kala mendengar kabar dariku bahwa ayahnya akan pulang keesokan harinya. Ia terlihat mampu bersabar tanpa sebuah tanya, hingga keesokan hari ia menagih janji kepulangan ayahnya.

 Dan ketika sosok ayah mereka hadir, terlihat sekali perhatian-perhatian kecil darinya untuk ayahnya tercinta. Good Job! Ayah telah berhasil menjadikan dirinya sebagai cinta pertama bagi sang putri.

Namun perjalanan masih panjang. Putri sulungku baru berusia lima tahun. Maka Sang Ayah  masih harus berusaha keras agar dia nyaman di sisi ayahnya dan benar-benar menjadikan Sang Ayah cinta pertamanya. Ini PR besar.

Aku berbicara dari ke hati-hati kepada suamiku agar memberikan perhatiannya yang lebih kepada anak-anak, terutama anak perempuan. Karena banyak hal yang akan lost jika Sang Ayah tidak dekat dengan anak-anaknya.

Terlalu sibuk bekerja bukan alasan untuk dapat menghindarinya, karena sebenarnya Sang Ayah bisa mengatur waktunya dan menyediakan waktu khusus untuk dapat menemani keseharian anak-anak.

Aku melakukan hal ini bukan tanpa alasan. Aku melobi suamiku selama beberapa tahun belakangan. Melalui artikel yang aku baca, video yang aku share bahkan aku memberikan contoh langsung kepada suamiku, dampak apa yang terjadi jika sosoknya tiada menghiasi hari-hari anak-anak. Dan yang paling terkena dampak negatifnya adalah anak perempuan. Maka sebisa mungkin, aku meminta suamiku untuk memberi perhatian lebih padanya, menanggapi setiap celotehnya, mendengar setiap ceritanya dan sering memberi pelukan. Karena pelukan itu dapat mengalirkan ketenangan, meredam emosi dan menyatukan segala cinta.

Dan sejauh ini, aku melihat perubahan yang cukup signifikan dalam sikap suamiku. Sosoknya yang sekarang terlihat lebih sabar, lebih perhatian kepada anak-anak, bersedia menemani mereka bermain dan lebih sering memberikan sebuah pelukan. Aku pun melihat bola mata yang berbinar pada anak-anak setiap mereka di dekat ayahnya. Jua aliran cinta kasih yang amat besar pada setiap pelukan mereka.


Aku terpana. Betapa ia bisa melakukan semua ini. Sisi hatiku tersentuh, bahagia karena anak-anakku tidak akan merasakan apa yang aku rasakan. ‘Ketiadaan sentuhan seorang ayah dalam tumbuh kembangku, bahkan hingga aku sebesar ini.’   

Baca juga: Duhai Mama
***
Setiap aku menjalani hari-hariku, selalu ada saat dimana slide memoriku zaman dulu muncul. Entah mengapa, namun ini benar terjadi. Saat dimana aku harus tampil di masyarakat, detik berikutnya aku bisa tiba-tiba merasa down, merasa tidak sanggup melakukan ini.

Meski sudah berupaya menguatkan dan menaikkan kepercayaan diri, tetap pada akhirnya aku kalah, tak mampu melawan rasa itu.

Di lain waktu, saat aku harus mengambil sebuah keputusan di antara pilihan yang ada, aku kebingungan. Meski setiap pilihan udah terlihat ragam konsekuensinya, aku masih merasa sulit untuk memilih. Hingga pada akhirnya ketika keputusan telah aku ambil, seiring berjalannya waktu aku mulai menyadari bahwa ternyata pilihan itu kurang tepat untukku.

Setelah di beberapa episode hidupku aku menyadari banyak kelemahan di diri ini. Dan entah kenapa, memori otakku reflek membuka memori isi beberapa artikel mengenai fatherless yang aku baca beberapa waktu yang lalu. Tapi, apa iya? Apa itu benar?

Kalau dipikir-pikir, dilihat dari slide demi slide di hidupku yang mulai terbuka kembali, aku jadi dapat menyimpulkan bahwa bisa jadi ini adalah salah satu dampak fatherless yang aku alami.


Karena sejak aku kecil, ayahku yang seorang PNS amat jarang menghabiskan waktu bersamaku. Saat aku balita, beliau sering pulang malam karena lembur.

Kedua kakakku sekolah di luar kota, aku di rumah hanya berdua dengan ibuku. Bapak, aku biasa memanggilnya demikian, sangat pendiam. Beliau hanya berbicara jika perlu, meskipun orangnya termasuk humoris. Karena sifatnya yang pendiam itulah, kami anak-anaknya segan alias sungkan untuk sekedar mendekat.

Karena masa kecilku hanya dihabiskan berdua dengan ibuku, aku kehilangan figur laki-laki panutan. Kedua kakakku adalah laki-laki, namun mereka sekolah di luar kota hingga bekerja dan menikah. Jadi aku pun tidak terlalu dekat dengan mereka, komunikasi just by phone, ketemu hanya saat liburan.

 Dan aku mungkin adalah satu dari sekian banyak anak-anak yang terkena dampak ketiadaan sentuhan sosok seorang ayah yang bisa aku adopsi sifat ke-maskulin-annya.

Hingga akhirnya saat ini, saat aku dewasa, aku menjadi perempuan dewasa yang tak punya jati diri, tipis kepercayaan dirinya dan sulit mengambil keputusan.

Berbahayakah jika seorang perempuan dewasa memiliki sifat-sifat yang aku sebutkan tadi? Ya. Itu amat buruk.

Perempuan dewasa yang tak punya jati diri, akan mudah terbawa arus pertemanan. Baik atau tidak baiknya ditentukan oleh teman dan lingkungannya. Rasa tidak percaya dirinya akan semakin memperburuk keadaan.

Aku bersyukur selama ini selalu berada dalam lingkungan yang baik.

Ketika sosok seorang ayah tak mampu menjadi cinta pertama putrinya, maka sang putri akan mencari cintanya pada sosok laki-laki lain.

Ini sempat terjadi padaku, dulu.

Ketika ada seorang laki-laki yang memberi perhatian lebih kepadaku, hati ini merasa tersanjung. Pikir ini lemah, mudah terbuai oleh perhatian kecilnya, perlindungan dan sentuhannya merasuk ke relung hati.

Entah apa yang terjadi. Aku merasa nyaman dengannya. Tinggal di kota yang berbeda dengan Bapak, membuatku tak ambil pusing karena ada sosok laki-laki ini. Dia bagaikan pahlawan buatku. Apa yang terjadi? Apakah aku jatuh cinta?
  ***

Karena ketiadaan sentuhan dan pendampingan dari Bapak semasa aku kecil hingga dewasa, aku tak dekat dengannya.

Bahkan sekarang, saat aku sudah hidup bersama keluarga kecilku dengan dua balita, aku merasa canggung untuk sekedar berdekatan dengan Bapak. Belum lagi dengan pembawaannya yang diam dan tertutup, semakin membuat jarak antara kami. Inilah sebabnya aku terus mewanti-wanti suamiku agar sedekat mungkin dengan anak-anak kami, dan bersikap terbuka pada mereka. Sering bertukar cerita, bermain, jalan-jalan dan ragam kegiatan lain.

Karena sejatinya mereka hanya butuh ditemani. 

Teringat pesan Ust. Harry Santosa, seorang pakar Pendidikan berbasis fitrah, “Jika anakmu masih usia balita, carilah rezeki secukupnya namun temani anakmu sebanyak-banyaknya.” Ya, kurang lebih seperti itulah intinya. Bekerjalah secukupnya, tidak usah terlalu ngoyo karena anak-anak membutuhkan sosok seorang Ayah di sisinya.    
Kita tidak dapat mengubah masa lalu, namun bisa memperbaiki masa depan. Aku belajar dari kisah hidupku dan takkan mengulangnya kepada anak-anakku.

Dalam episode hidupku saat aku menyadari hal ini, aku berusaha memperbaiki komunikasi dengan Bapak. Mendekatkan suamiku dengan anak-anak, terutama anak perempuan kami.

Karena banyak hal yang dapat mereka serap dari sosok kelelakian seorang ayah. Sifat maskulinitas yang tidak bisa didapat dari sosok seorang ibu. Jika ayah telah tiada, gantilah dengan sosok orangtua laki-laki yang lain, bisa kakak laki-laki, paman maupun kakek. Karena itu amat penting untuk mereka dalam mengarungi badai kehidupan kelak.








Disclaimer : Tulisan ini kubuat sekitar setahun yang lalu. Terbit di salah satu buku antologiku yang berjudul Chamomile Tea for Great Dad.



47 komentar:

  1. Terima aksih mbak sharingnya. Ini yang aku lakukan kepada bayiku yang sudah mau 6 bulan. Setiap mau berangkat kerja atau pulang kerja, aku ajak main dan selalu kupeluk. Semoga kita (para ayah) bisa jadi cinta pertama untuk anak gadisnya.

    Dan setuju dengan perkataan ust. Harry Snatosa, dampingi anak di waktu kecil sebanyak2nya...

    Postingan yang keren dan berguna banget. Terima kasih mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah, sama-sama Mas. Semangat untuk terus berupaya menjadi cinta pertama bagi anak gadis ya Mas...

      Hapus
  2. Anak perempuan gitu ya, dekat dengan ayah.
    Saya sejak kecil nggak dekat sama bapak, soalnya beliau galak, suka marah-marah.
    jadinya saya udah keburu takut dan kesal ama beliau.

    Jadinya saat kuliah dan punya pacar, rasanya senangggg banget ada yang merhatiin.

    bahaya banget sih ya, untung kenal ama laki-laki yang baik.

    Kalau anak-anak saya kadang lupa aja gitu sama papinya yang jarang pulang.
    Paling yang sulung nanya, meski juga nggak jadi masalah buatnya :)

    Bagi dia, asal saya sering nemanin dia, papi jarang pulang juga gapapa hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini hampir sama dengan yang saya alami mbak. saya juga gak dekat dengan bapak, bukan karena beliau galak tapi justru karena beliau amat pendiam. jadinya segan. Begitu gede dekat ama cowok yaaa seneng banget donk. Nah ini. lagi berusaha ngedeketin ayahnya anak-anak ke anak gadis nih. susah-susah gampang euy

      Hapus
  3. Sebenarnya mba, dengan kondisi jarak jauh sekali pun sebenarnya ayah bisa berdekatan dengan anak perempuannya asalkan ketika pulang dia membuat quality time berdua,

    Saya sudah merencanakan nantinya anak saya yang gadis2 akan punya play date dengan ayahnya. Berganti an dengan anak laki2. Jadi mereka semua merasa special.

    Bersama saya juga. Nantinya mau saya buat jadi bahan pendekatan dengan anak,

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mbak. Cuma kesadaran ayahnya anak-anak yang masih kurang nih. Jadinya PR buat saya jugaaa menyampaikan ke ayahnya anak-anak mengenai pentingnya hal ini

      Hapus
  4. Hiks.. mewek bacanya. aku lebih parah mbak, ayah meninggal waktu aku SD dan tak ada sosok pengisi peran ayah dalam hidupku. Dan terasa efeknya ketika aku dah menikah ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mbak. ternyata bagaimana pola asuh kita saat kecil kerasas banget ketika udah menikah dan punya anak sendiri ya mbak... hiks

      Hapus
  5. Hati saya terharu bacanya mbak, ikut merasakan bahwa kondisi fatherless ini rupanya berpengaruh banget dengan kondisi kita saat ini.
    Semangat mbak, menjadi orangtua memang sebuah pembelajaran...apalagi saya yang masih jauh dari sempurna dan kurang cermat dengan hal-hal seperti yang mbak jelaskan di atas.
    makasih sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mbak...
      saya suka sedih aja ngingetnya, dan gak mau anak-anak saya ngalamin apa yang saya rasain... karena tuh gak enak banget kayak gak punya pegangan hidup

      Hapus
  6. Alhamdulillah anak² Mbak Qoty gak mengalami spt yg ibunya alami. Saat ini baik jg kl kenangan fatherless nya di-delete aja. Sebab kl masih dikenang berarti kita blm sepenuhnya selesai dengan inner child
    Tfs ya Mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak...
      baiknya dihapus yaaaa. thank you jugaaa. harus bisa berdamai dengan diri sendiri

      Hapus
  7. Semoga ini bisa membukakan mata dan hati ayah jaman now ya
    Bahwa ayah harus HADIR dalam dunia anak
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
  8. Penting sekali anak perempuan bisa dekat dengan anaknya. Agar kelak nggak gampang tergoda dengan laki-laki yang nggak jelas. Anggap aja fatherless yang mbak alami sebagai pelajaran hidup yang bisa diambil hikmahnya. Tetap semangat ya mbak!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener nih mbak. semoga ada hikmah yang bisa dijadikan pelajaran..

      Hapus
  9. Lebih kurang sama, Bapakku banyakan bekerja jadi guru kemana-mana karena aku bersaudara 6 perempuan sekolah semua. Akhirnya aku enggak dekat sama Beliau. Memang ada dampaknya.
    Semoga kita bisa mengambil hikmah sehingga tidak terulang lagi hal yang sama pada anak-anak kita ya Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. sedang belajar ke arah situ mbak,. doanyaa

      Hapus
  10. Kita hampir sama kak..., cuman bedanya papi meninggalkan saya dan saudara lainnya dan adek bungsuku saat itu masih berusia 2 tahun..sekarang beliau tenang disana. Semenjak itu hatiku hancur karena dikondisi masih kecil saya harus berjuang...dulu aku sakit hati banget kalau berpisah sama cowok karena aku butuh kasib sayang. Alhamdilillah allah menjawab doaku..

    BalasHapus
    Balasan
    1. masya Allah,, turut sedih mbak dengernyaa...
      memang hal-hal seperti itu ngaruh banget ke kondisi jiwa dan mental kita sebgai perempuan ya mbak

      Hapus
  11. Biasanya, malah anak perempuan itu dekat dengan Bapaknya ya, Mbak. Misalnya kakak perempuan saya yang satu-satunya memang perempuan dari 5 bersaudara. Jadi walau Bapak sering tugas ke luar kota, tetap dekat dengan Bapak saya. Apalagi wajahnya juga mirip hahaha.

    Tapi Qoty sudah pas, dengan bicara dari hati ke hati dengan paksu. Dan itulah yang tidak dilakukan oleh Ibu Mbak Qoty pada Bapaknya dulu ya, Mbak. Tapi tetap kembali kalau sikap dan watak seorang Bapak memang berbeda-beda ya, Mbak.

    Terima kasih sharingnya, Mbak Qaty.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas. Masya Allah masih banyak yang harus dibenahi nih, dalam pola pengasuhan yang dijalankan

      Hapus
  12. Kok aku baca tulisan mba saya merasa bersyukur karena saya besar dengan waktu bapak yang luas dan sekarang punya suami pun yang selalu meluangkan waktu untuk anak-anak hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah mbak, karena banyak banget di luaran sana yang mengalami fatherless ini, dulu maupunj sekarang

      Hapus
  13. Bersyukur ya anak2 masih bisa mendapatkan perhatian dari ayahnya, dekat dengan ayah, anak akan menjadi berjiwa mandiri dan kuat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak. rasa percaya dirinya juga tinggi, jika anak perempuan dekat dengan ayahnya. ini kerasa banget di saya, yang sampe sekarang pun masih suka rendah diri, gak pedean karena emang dulunya gak dekat dengan bapak

      Hapus
  14. Aku jadi mbrebes mili baca ini sebab posisiku sebagai seorang ayah jado bertanyatanya apakah aku cinta pertama anakku atau bukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. insya Allah jika kehadirannya selalu dinantikan sang anak, maka ayahlah cinta pertamanya... yang penting ada quality time Mas

      Hapus
  15. Indonesia butuh figur ayah agar anak bangsa punya karakter kepemimpinan yg baik. Noted bgt tulisannya Bunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah baca, indonesia itu malah keisis figur ayah lho

      Saya sendiri dan adik2 tergolong dekat dengan sosok kedua orangtuA.
      Ayah dan ibu selalu mendampingi kami di setiap langkah.

      Alhamdulillah suami juga begitu, tapi saya ndak punya ank perempuan ini...

      Hapus
  16. Wah harus dibaca suamiku nih, apalagi aku punya anak perempuan, terima kasih ya sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mbak.... semoga banyak para ayah di luar sana yang udah sadar akan hal ini dan ambil bagian dalam pengasuhan

      Hapus
  17. Betul banget mbak, figur ayah sangat dibutuhkan. Karena darinya kita menjadi lebih PD, berani dan mampu mengambil resiko. Tapi salut dengan semangat di keluarga kecilnya mbak, semoga Allah memberikan keluarga Samawa

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. makasih mbak doanya..
      masih panjang perjalanan kita ya mbak... semoga Allah mudahkan jalannya

      Hapus
  18. cewek itu harus dekat dengan bapaknya agar tidak menjadi bucin ketika dekat dengan cowok, begitu pula anak laki. Katanya seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang seperti itu adanya mas. makanya sejak kecil dekatkanlah anak perempuan ke ayahnya...

      Hapus
  19. Cocok banget emang buat fiksi ala cerita antologi gitu. Btw ini based on true story kah??

    BalasHapus
  20. waduh saya beruntung banget yak hidup bersama sampai dewasa dengan Ayah plus 5 kakak laki laki wkkkk saya jadi tomboy

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah mbak... tomboy gak masalah asal mengerti jati dirinya. yang penting dilimpahi kasih sayang yang cukup dari ayah dan kakak-kakaknya

      Hapus
  21. Mbak, kutahu banget gimana rasanya. Nelongso ya mbak, tapi mau gimana lagi, Sudah kehendak gusti Allah. Bisanya cuma ikhlas dan sabar. Semangat jadi ibu yang tetap menghadirkan sosok ayah dirumah

    BalasHapus
  22. Betul sekali, Mbak. A father should be her daughter first love. Kebalikan dari Mbak Qoty, saya sebagai anak gadis pertama amat dekat dengan ayah. Saat SMP, saat teman-teman sibuk cari pacar, saya adem ayem saja. Buat apa? Toh laki-laki paling dekat dan selalu melindungi itu ada pada diri ayah saya. Saya percaya diri dengan keputusan menjadi jomlo, bahkan sampai dewasa. Disindir2 pun tidak mempan, hehe. Saya merasa sudah dipenuhi dengan perhatian dan cinta, alhamdulillah. Walaupun saat itu pastinya belum paham tentang fitrah ayah-anak gadis.
    Itu saya jadikan pelajaran hingga kini, saat anak sulung saya sudah jelang aqil baligh. Alhamdulillah, suami termasuk ayah yg dekat dengan anaknya walaupun kami sempat ber-LDR.
    Semua pasti ada hikmahnya dan semoga kita bisa lebih baik mendidik anak-anak dengan ilmu :)

    BalasHapus
  23. Aku pun, merasakan hal yang sama, Mbak. Makanya pas punya anak, selalu berusaha membangun kelengketan diantara anak-anakku dan ayahnya.

    BalasHapus
  24. Figur Ayah yang ada untuk anak-anaknya tentu akan menghasilkan sosok anak yang mandiri dan percaya diri. Karena ada beberapa hal yang gak bisa ditemukan dari sosok Ibu. Apalagi untuk anak perempuan. Tentu kedekatan dengan Ayahnya akan membuat dia menjadikan Ayah cinta pertamanya. Tapi sepertinya jika berlebihan juga gak bagus lho Mbak..Temanku deket banget sama Ayahnya, sampai tiap dideketin cowok bandingin sama sang Ayah. Akhirnya telat nikah. Usia 40 baru nikah, dengan duda yang pekerjaannya sama persis dengan Ayahnya (dan mirip pula orangnya).

    BalasHapus
  25. Terima kasih sharingnya mbak. ku mewek bacanya. PR banget buat aku yang single mom nih supaya bisa memberi pengetahuan soal sosok ayah ke anak perempuan.

    BalasHapus
  26. saya lebih dekat dengan bapak drpd dg ibu. Saya dpt menumpahkan cerita apa saja dg bapak & seringkali bpk sdh mengetahui apa yg saya ingin kan.

    BalasHapus