Menemukan Berlian


Dalam hidup ini, pernahkah kalian bermimpi akan menemukan berlian?
Seperti aku, rasanya jangankan berangan, memimpikannya pun tak pernah!
Namun saat ini, aku menemukannya...😎😍

Berlian seperti apa yang berhasil aku temukan?
Mungkin ini adalah berlian termahal di dunia, bahkan hingga ke akhirat.
Berlian yang tiada orang yang mampu tuk membelinya, meski punya uang ber M M atau ber T T sekalipun.
Berlian ini sungguh adalah karunia dari Allah kepada yang dititipi, namun aku ragu dia menyadari atau tidak.

Akupun tak tahu apa maksud Allah di balik semua ini? Yang dititipi berlian itu adalah dia, kawanku, namun kenapa aku yang harus menyadari dan menemukannya?

--------

Upayaku Mendidik Amanah Allah

Aku ibu muda dengan dua anak yang sampai saat ini masih diusahakan agar kelak menjadi anak yang taat, berbakti dan sholeh-sholehah. Amiin. Segala upaya dilakukan, demi untuk menumbuhkan rasa cinta di hati mereka kepada Rabb-nya. Mulai dari membiasakan mereka membaca doa setiap akan melakukan sesuatu, mengajak mereka turut serta sholat berjamaah di masjid, memperdengarkan tilawah setiap waktu, sampai menuntun mereka menghafal ayat-ayat-Nya sedikit demi sedikit.

Tentu hal itu bukanlah hal yang mudah. Aku harus bangun jam 3 bahkan jam 2 pagi untuk bersemedi. Me Time lah, hihihi. Kemudian jam 4 pagi aku mulai membangunkan anak-anak, mengecup pipinya, membisiki dengan rayuan maut, kalimat sayang agar mereka bangun. Lanjut mengajaknya ke kamar mandi untuk membersihkan dan menyucikan diri. Kemudian si sulung yang perempuan ikut aku berjamaah dengan santri putri sedangkan si bungsu yang laki-laki ikut ayahnya berjamaah subuh di masjid. Meskipun dalam prakteknya, sulung yang baru 5 tahun hanya duduk di sampingku dan bungsu yang masih 3 tahun malah tidur lagi di samping ayahnya, tidak masalah. Yang penting bagi kami adalah, mereka berdua dapat turut merasakan keberkahan dan indahnya bangun di pagi hari saat fajar tiba.

Setelah sholat subuh, biasanya aku mengajak anak sulungku mengaji. menambah hafalan surat-surat pendeknya dengan cara membacakan berulang-ulang dan dia menirukan. Setelahnya bergantian dengan anak bungsuku. Kenapa aku yang melakukannya? karena suamiku mempunyai amanah mengajar anak-anak santri mengaji di masjid. Dalam menambah hafalan, kedua anakku memakai metode yang berbeda. Jika anak sulung yang perempuan dengan cara menirukan ayat demi ayat yang dibacakan, anak yang lelaki cenderung enggan menirukan. Dia hanya mau mendengarkan saja. Akulah yang harus konsisten mengulang surat yang dibaca sehingga dia hafal dan mengingatnya. Jadi, penting ya kita mengenali potensi yang dimiliki anak kita sehingga kita mudah menentukan metode apa yang cocok untuk anak kita dalam belajar.

Kemudian kami akan berolahraga ringan, sekedar jogging atau hanya jalan-jalan kaki di pagi hari, namun anak-anak sangat gembira menjalaninya. Terkadang kami hanya jalan bertiga saja tanpa sang ayah karena kerjaan yang harus dikerjakan, tak apa. Yang penting semua ada waktunya, ada porsinya. Kami sering juga mampir di taman kecil di samping posyandu komplek. Berayun sembari murojaah (mengulang) hafalan alqur'an yang sudah dihafal. Jika sudah dirasa cukup, kami bermain, kemudian kembali ke rumah untuk makan pagi bersama.

Begitulah kira-kira hari-hari yang kami bertiga lalui di rumah. Karena ayahnya anak-anak meskipun berkantor di sekitar rumah, namun seringkali mendapatkan tugas keluar sehingga ia lebih sibuk di luar. Aku berusaha keras setiap adzan berkumandang mengajak anak-anak ikut shalat berjamaah dengan anak-anak santri. Meskipun mereka tidak sepenuhnya mengikuti aktivitas shalat, ini aku lakukan demi mendekatkan mereka akan aktivitas ibadah agar tumbuh rasa cinta dan  taat kepada Allah dan Rasulullah dalam hatinya. Memang tidak mudah dan butuh waktu yang lama, namun dengan istiqomah yang kan terus diusahakan, semoga kelak rasa itu tumbuh dengan indah.

Baca juga: Asbab Cinta 

Tuh, kebayang kan betapa memaksakannya diriku ini? Maka ketika di suatu waktu saat aku dan anak sulungku sedang menuju tempat shalat berjamaah, tiba-tiba ada seorang teman mainnya anakku yang mengikuti dari belakang, sudah mengenakan mukena. Masya Allah, aku tersentak!

Anakku saja yang aku berusaha mati-matian mendekatkannya dengan aktivitas ibadah setiap hari, dia belum mau mengenakan mukena saat ikut shalat. Hanya sesekali saja dia mau. Sedangkan anak itu, tanpa diajak pun dia langsung mengikuti dan bahkan memakai mukena dengan keinginannya sendiri. Tak jarang, anak itu juga ikut mengaji jika dia mendapati aku sedang mengaji dengan anak sulungku. Masya Allah, dia bagaikan berlian, yang jika dipoles sedikit saja, kilaunya akan memancar ke sekitarnya. Sayangnya, orang-orang terdekatnya seakan belum menemukan dirinya. Sedih, Mak. Haruskah aku juga yang memoles berlian ini agar menjadi indah?? atau aku biarkan begitu saja sampai orang terdekatnya menemukan potensi dalam dirinya??

Tolong beri aku saran. Terima kasih sudah berkenan membaca coretan ini.

Salam hangat,

Qoty Intan Zulnida 





28 komentar:

  1. Barokallah mbak, semoga anak-anaknya bertambah sholeh dan sholehah. Terimakasih sudah mengingatkan kembali tentang amanah mengasuh dan mendidik anak. Walaupun ada anak yang tidak lahir dari rahim kita tapi ada dalam jangkauan kita tak ada salahnya kita turut memolesnya, Inshaallah akan menjadi amal sholeh bagi kita. Semoga tetap istiqamah ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. AAmiin. makasih supportnya, mbak. Iya, mbak. tetap berusaha mendampingi sebisanya.

      Hapus
  2. Masya Allah Tabarakallah..
    Mbak terima kasih sudah mengingatkan untuk memoles berlian yang ada dalam genggaman.
    Tak ada salahnya juga memoles berlian yang ada di sekitar. Saya rasa jadi tanggung jawab kita bersama sesama Muslim untuk melakukannya :)

    BalasHapus
  3. Sering lupa bahwa Mutiara di genggaman ini menunggu dipoles,bukan mengilap sendiri. Thanks for reminds me ya Mbak

    BalasHapus
  4. Setiap anak adalah berlian. Tinggal kita sebagai orang tua yang mengasahnya dengan memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik. Terima kasih sudah mengingatkan kami.

    BalasHapus
  5. Subhanallaah, berlian yang sangat berkilau ya mbak. Kalau aku di posisi mba, setiap kali ada kesempatan pasti aku usahakan untuk memolesnya. Semoga putra putri kita kelak juga menjadi berlian2 yg kilaunya menyilaukan. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak. Saya pun berusaha sebisa saya. Aamiin.

      Hapus
  6. Masaya Allah, semoga anak anaknya menjadi anak soleh dan solehah ya, Mbak. makasih banget udah diingatkan tentang konsistensi. saya juga mulai ingin menggajar ngaji dan hafalan quran anak anak saya. iri saya sama guru ngajinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Memang yang paling sulit itu memulainya dan menjaga konsistensinya. Semangat, mbak... Jangan mau kalah sama guru ngajinya biar emaknya juga dapat pahala jariahnya.

      Hapus
  7. Subhanallah...semoga sukses dlm mengasah berlian yg dimiliki ya Mba. Krn menurut pengalaman saya, apa yg kita berikan kpd anak2, itu yg akan kita petik di masa depan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Rabb. Makasih mba, support dan doanya

      Hapus
  8. Masya Allah, Bun... menginspirasi sekali. Aku belajat banyak dari tulisan ini, bagaimana mengatur waktu dan mengajari anak mengenal Rabbnya. Semoga kita dikaruniai keturunan yg salih dan salihah ya Bun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin....
      Saling belajar dan mengingatkan, mbak

      Hapus
  9. Suka gemes ya Bun kalau banyak orangtua yang tidak menyadari berlian itu ada di samping dan di depan mereka. Aku juga dari anak usia dini sudah mengenalkan Allah dan agamanya padanya. Tentu saja dengan cara yang positif dan menyenangkan. Agar ia mencintai agamanya dengan hati yang seneng bukan dengan paksaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya,bund. Gemes banget. Saya juga sih ga mau memaksa, ketika waktunya mengaji kok mereka belum mau, masih pengen main misalnya. ya jadinya ngajinya sambil bermain aja. hehe

      Hapus
  10. Semangat menebar manfaat ya mba

    BalasHapus
  11. MasyaAlloh mbak, rasanya adem banget baca artikel nya. Semoga bisa memoles berlian menjadi indah cemerlang. Aamiin

    BalasHapus
  12. Diajak belajar juga aja, Mbak. Berlian-berlian lain di sekitar sangat membutuhkan kepedulian kita. Barakallah ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Kalo anaknya mau pasti diajak turut serta juga

      Hapus
  13. Masha Allah kalau anaknya mau sebaiknya ajak belajar Aja, Insha Allah jadi anak sholeha, Dan Mba ikut dapat pahalanya yang penting ikhlas. Semoga juga bisa mendidik anak menjadi anak sholeh dan sholeha, kehidupannya jadi berkah. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak,. selalu diajak kok.. AAmiin, saling mendoakan mbak

      Hapus
  14. Intan dan berlian merupakan mineral dari karbon yang memiliki sifat-sifat fisika yang istimewa.

    BalasHapus