Surat Cinta Untuk Si Sulung



Sulungku
Kau begitu istimewa.
Pembelajar sejati
Selalu ingin tahu 
Tak pernah merasa puas akan ilmu.

Hatimu begitu lembut, begitu sensitif.
Mudah terluka, mudah pula mengerti.

Maafkan kami, orangtuamu.
Di usiamu sedini ini harus belajar berbagi
Berbagi kasih dan sayang, jua perhatian.
Belum sampai tujuh tahun umurmu
Harus kau mengerti dan memahami
Kehendak kami yang tak jarang berunsur paksaan.

Kebaikanmu tulus,
Ketulusanmu utuh.
Tak lelah meminta, pun tak puas menerima.
Pandai menepati janji, lagi punya pendirian.
Meski seringkali ketakutanmu mengalahkan akal sehat.

Sulungku,
Tetaplah selalu bersinar
Dengan segala keterbatasan kami membimbingmu.

Ingatkan kami,
Jikalau kami tak tepati janji.

Pondok Petir, 21 Februari 2019
Di suatu siang yang sendu. 


Baca juga: Duhai Mama


Hai....hai....halloo.... ☺
Baper gak nih baca puisi di atas? 

Semoga pesan yang tersirat di dalamnya dapat tersampaikan, yaaa. 

Enggak tahu kenapa nih, belakangan ini diriku lagi baper, jadi bawaannya pengen menjahit frasa mulu, untuk mengungkapkan apa yang terpendam. Mau nulis artikel, padahal bahan mah udah ada, ide juga ada, tapi kok ya berat mau mengeksekusi. hufth. 

Balik lagi ke surat cinta, ya. 


Surat Cinta Untukmu, Sulungku. 


Puisi alias surat ini kutuliskan untuk membuat jejak. Mungkin suatu saat ketika Sulungku sudah bisa membaca ia akan membaca tulisan ini. Agar ia tahu bahwa diriku begitu menyayanginya. 

Kadang, aku menangis mengingat nada suaraku yang seringkali meninggi kala polah tingkahnya aktif. Kupandangi matanya yang terlelap, begitu ia berbesar hati menerima diriku sebagai ibu terbaiknya. Yang kadangkala membentaknya, bahkan memberikan cubitan kecil di lengannya. Pun tak jarang aku menghukumnya, saat kesalahan yang sama terulang. 

Beberapa kali kudengar suara protes darinya, kenapa hanya ia yang diingatkan sedangkan adik tidak? 

Bagaikan petir di siang bolong. Aku menangis dalam diam. Ya, aku telah salah. Maafkan aku, Maafkan ibumu, anakku. 

Saat hatiku terluka, kaulah yang menghiburku. Kau katakan, "Jangan menangis Ibu, bila dirimu menangis aku juga akan menangis." Bila hatiku gundah, kau hanya mendiamkanku. Memberiku ruang untuk sendiri, tanpa pernah menggangguku. 

Betapa di usiamu yang sedini ini, kau pandai memahami. Mengerti jika hidup tak selalu bahagia. Adakala lara, duka dan airmata mewarnainya. Betapa kami bahagia memilikimu. 

Ketahuilah anakku, diriku begitu menyayangimu. Izinkanlah kami belajar menjadi orangtua yang baik bagimu. Temanilah proses ini, karena sejatinya kamilah yang banyak belajar dari dirimu. 

Terima kasih Tuhan, Kau kirimkan malaikat kecil di keluarga kami. 


  


36 komentar:

  1. Bapeeeeer ... jadi kangen sama anak.

    BalasHapus
  2. Iiish so sweet bahagianya bisa begini sama anak, bener loh memperlakukan anak bukan hanya sebagai anak yang kita lahirlah, tapi teman dan segalanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Miss. Lebih baik menjadi sahabat untuk anak

      Hapus
  3. Saya kok jadi teringat gadis kecil sulung saya..huhu..sering saya kurang sabaran menghadapinya,padahal dianya kan memang juga sedang belajar jadi kakak yaa.. puisinya cantik,mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sama, mbak. Masih terus belajar untuk sabar

      Hapus
  4. Duh, Emak baper ya karena sulung harus selalu diposisikan mengalah buat adik-adik. Jangankan yang adiknya banyak, sulungku yang adiknya hanya satu aja, aku seringkali merasa bersalah kalau harus menyalahkan kakaknya aja. Makanya setiap kali bertengkar, aku selalu tanya kedua pihak. Nggak membela kakak karena dia lebih tua atau membela adik karena anak bungsu. Kalau soal tugas, aku tekankan bahwa disesuaikan dengan usia. Alhamdulillah, sulung mengerti prajurit harus siap ditempa, wkwkwkwk ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, Mbak Mel. Kalo urusan pertengkaran memang begitu, Mbak, harus konfirmasi dulu kepada kedua belah pihak.

      Hapus
  5. MasyaAllah si sulung. Aku terharu bun bacanya. Meskipun ak belum punya anak, huah tapi kalo inget waktu kecil aku yang suka dimarahin tapi adikku engga itu tuh bikin bete. Berasa dipilih kasih bun. Semoga yah kita menjadi orang tua yang bijak

    BalasHapus
    Balasan
    1. AAmiin. Semoga Mbak Mega segera dikaruniai momongan

      Hapus
  6. saya kadang juga merasa tidak adil pada si kakak, selalu saja disuruh mengalah, padahal memang kadang adik yang "cari" masalah. tapi itu juga jadi kesempatan untuk menjelaskan kepada si kakak, bahwa ketika dia sebesar adik, tidak adik kecil yang mengganggunya, bahwa bunda lebih banyak punya waktu menemaninya. Biasanya kakak jadi sedikit lebih pengertian, alhamdulillah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah, semoga kita bisa semakin baik kepada kakak maupun adik ya, bund

      Hapus
  7. Rindu sulung ya mak, lagi belajar dimana sulungnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada di rumah, bund. Karena saya merasa ada perubahan sikap pada dirinya. jadi baper. hehe

      Hapus
  8. Jadi ikutan kangen pada si sulung yang jauh di Bogor. Semoga anak-anak kita menjadi anak yang sholeh ya, mba...

    BalasHapus
  9. Waduuuh jadi baper...saya masih butuh memperhatikan anak anak terutama anak yang pertama...kini sudah SMP

    BalasHapus
  10. Kadang, memang tak mudah berlaku adil pada anak-anak ya mba. Niat sudah ingin adil, apa daya kondisi sering kali membuat kita tanpa sadar jadi berat sebelah. Dan itulah pentingnya memiliki komunikasi yang baik dengan mereka. Semangat mba!

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul banget, mbak. komunikasi dua arah ini yang pentingh

      Hapus
  11. Saya yang merasa banyak salah pada anak sulung...Ya Allah, semoga anak anak kita menjadi anak yang bisa dibanggakan diahadapan Allah

    BalasHapus
  12. saya ikut baper bacanya, kadang imgat waktu dia masih kecil, udah punya dua adik yang harus berbagi perhatian dan kasih sayang untuk ketiganya. ketika bungsu lahir, sulung saya udah besar, udah lebih ngerti bagaimana berbagi. sulung saya persis banget sifatnya sama saya, lebih sering ngalah, tapi memendam kecewa, ah, semoga tak berdampak buruj untuk kedepannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, mengalah tapi memendam kecewa ini yang bisa jadi boom waktu bagi diri seseorang.

      Hapus
  13. Setelah marah saya selalu meminta maaf ke anak saat mereka hendak tidur. Saya nggak mau mereka membawa rasa kesalnya ke alam bawah sadar. Hiks. Terima kasih telah berbagi ya mbak

    BalasHapus
  14. Iya mbak.
    Katanya kita perlu sering-sering meminta maaf pada anak pertama.
    Karena seringkali kita seakan mengabaikan dan melakukan trial n erorr pengasuhan padanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ya, mbak. dialah yang diurus oleh kita yang belum berpengalaman. Harus sering meminta maaf yaaaa. hiks

      Hapus
  15. Anak pertama selalu bikin baper, wkwkwk. Aku pun menulis buku antologi pertama untu Najwa, dan sukses bikin termehek-mehek. Ya begitulah kita para ibu. Selalu ada alasan untuk baper sama anak. Hihihihi

    BalasHapus
  16. Jadi inget sama sulung saya, entah kenapa ya kadang secara nggak sdar sering menuntut ini itu padanya, sering ia protes karena harus sering mengalah untuk adik adiknya

    BalasHapus
  17. iya, mbak. mungkin karena kita merasa dia udah besar. padahal....

    BalasHapus
  18. Amak pertama itu lengkap sebagai anak yg keberadaanya digadang-gadang ditunggu2. Sekaligus anak pertama jadi objek pembelajara saat merawatnya. Pokoknya bikin aduk2 rasa hatilah. Keren mb Qoty...

    BalasHapus
  19. Baper baca puisinya ❤

    BalasHapus
  20. Ah, jadi cirambay baca ini karena keingetan si sulung.

    BalasHapus